• ukm
  • header

Berita

Pekalongan — Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar Masa Pengkaderan Anggota (MPA) 2025 pada 18–19 Oktober di Wana Wisata Kalipaingan, Paninggaran, Kabupaten Pekalongan. Kegiatan ini menjadi ajang pembinaan bagi calon anggota baru untuk menumbuhkan semangat kritis, empati sosial, serta kesadaran terhadap isu kesetaraan gender di lingkungan kampus.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Himne UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Sambutan disampaikan oleh Ketua Pelaksana Diah Qurota A’yun, yang mengapresiasi kerja keras panitia dan semangat peserta, serta oleh Pembina UKM SIGMA, Muasomah, M.A., yang menekankan pentingnya menginternalisasi nilai-nilai kesetaraan dan kepemimpinan berperspektif gender. Muasomah sekaligus membuka kegiatan MPA 2025 secara resmi.

Pada sesi pertama, Nadhifatuz Zulfa, M.Pd., selaku Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, memaparkan materi bertema “Gender, Inklusivitas, dan Sinergi Gerakan Mahasiswa dalam Pengarusutamaan Gender di Kampus.” Ia menjelaskan bahwa isu gender bukan sekadar pembahasan teoritis, melainkan persoalan sosial yang menuntut kepekaan dan aksi nyata. Nadhifatuz mengajak peserta agar menjadi agen perubahan yang memperjuangkan lingkungan kampus yang setara dan bebas diskriminasi.

Materi kedua disampaikan oleh Ulul Albab, S.Pd. dengan topik “Menulis untuk Kesetaraan: Pengantar Kepenulisan Gender bagi Calon Anggota UKM SIGMA.” Ia menekankan bahwa literasi dan tulisan dapat menjadi medium perjuangan dalam menyuarakan keadilan sosial. Ulul mendorong peserta untuk terus menulis, sebab menurutnya, perubahan besar sering kali bermula dari keberanian menulis gagasan yang berpihak pada nilai kemanusiaan.

Selanjutnya, Muhammad Bilal, S.Sos. membawakan materi “Menjadi Pemimpin Inklusif dan Visioner.” Dalam penyampaiannya, Bilal menegaskan bahwa kepemimpinan dalam organisasi mahasiswa harus dilandasi oleh kemampuan mendengarkan, menghargai perbedaan, dan mendorong kolaborasi. Ia menekankan pentingnya membangun kepemimpinan yang tidak hanya efektif, tetapi juga empatik dan partisipatif.

Selain sesi materi, peserta juga mengikuti kegiatan diskusi kelompok dan dinamika lapangan yang dirancang untuk memperkuat solidaritas dan kerja sama. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme.

Sebagai penutup, dilakukan refleksi bersama mengenai nilai-nilai yang diperoleh selama proses kaderisasi. Melalui kegiatan MPA 2025, UKM SIGMA berharap lahir kader-kader muda yang berpikir kritis, berjiwa inklusif, serta berkomitmen memperjuangkan kesetaraan di kampus dan masyarakat.

Pekalongan – Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid menggelar acara Lapak Diskusi Gender (LDG) dengan tema “Memahami diri: Perbedaan introvert dan ekstrovert, apa yang membedakan?” pada Rabu (17/09) petang. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Perkuliahan Terpadu dan dihadiri cukup ramai oleh mahasiswa lintas fakultas, yang antusias mengikuti jalannya diskusi.

Sebelum diskusi dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti sesi tes kepribadian secara online. Hasil tes tersebut kemudian menjadi bahan awal bagi peserta untuk merefleksikan diri sekaligus memperkaya jalannya diskusi.

Acara menghadirkan Muhammad Fachry Rizki Wiyanto, pengurus UKM SIGMA, sebagai pemantik diskusi. Dalam pemaparannya, Fachry menekankan pentingnya memahami konsep introvert dan ekstrovert secara lebih tepat agar tidak terjebak pada stereotip.

“Introvert bukan sepenuhnya pendiam, seringkali introvert juga sering dibully dalam media massa. Dan extrovert pun tidak selalu cerewet dan si paling aktif. Introvert mengisi energi dengan fokus sendiri, extrovert mengisi energi dengan berinteraksi sosial,” jelas Fachry.

Diskusi berjalan interaktif dengan Nurul Aminah, pengurus UKM SIGMA dari Divisi Kajian, yang bertugas sebagai moderator. Ia memandu jalannya diskusi sehingga peserta dapat terlibat aktif dalam menyampaikan pandangan dan pengalamannya terkait topik tersebut.

Selain menambah wawasan, peserta LDG juga memperoleh sejumlah keuntungan seperti sertifikat elektronik, konsumsi ringan, hingga kesempatan memperluas jaringan melalui kegiatan interaktif. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya UKM SIGMA dalam menghadirkan ruang dialog yang inklusif dan edukatif, khususnya terkait isu-isu sosial, psikologi, dan gender di kalangan mahasiswa.

Pekalongan — Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar Lapak Diskusi Gender (LDG) bertema “Mengenal dan Mengatasi Cemas: Apa yang Bisa Kita Lakukan?” di halaman belakang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, pada Kamis (28/08) sore.

Kegiatan ini menghadirkan Kurniati Agil Cahyaningsih sebagai pemantik diskusi. Ia menekankan bahwa kecemasan merupakan respons alami manusia, tetapi perlu dikenali sejak dini agar tidak berkembang menjadi gangguan serius.

“Cemas umumnya berawal dari pikiran dan disertai tanda fisik seperti jantung berdebar, gemetar, sulit fokus, atau keringat berlebihan. Meski terasa tidak nyaman, cemas sejatinya wajar dialami siapa pun. Ia menjadi tanda bahwa tubuh sedang peduli dan bersiap menghadapi sesuatu demi memberikan yang terbaik bagi diri kita.” jelas Agil.

Ia juga memaparkan sejumlah langkah sederhana untuk mengelola kecemasan, di antaranya: menerima rasa cemas, mengatur napas, tetap fokus pada hal yang sedang dihadapi, mendiskusikan perasaan dengan orang lain, mengalihkan diri pada kegiatan positif, serta menghindari konsumsi alkohol dan kafein.

Acara dipandu oleh Aisya Meidina Natasya dari Divisi Kajian UKM SIGMA sebagai moderator. Diskusi berlangsung interaktif, ditandai dengan partisipasi aktif mahasiswa yang bertanya, berbagi pengalaman, serta menyampaikan strategi dalam mengelola kecemasan.

Selain menjadi forum berbagi pengetahuan, LDG juga menjadi ruang dukungan bagi mahasiswa. Obrolan ringan hingga refleksi mendalam membuat peserta menyepakati bahwa kecemasan bukan hal tabu untuk dibicarakan.

Melalui forum sederhana ini, UKM SIGMA menghadirkan ruang aman bagi mahasiswa untuk saling mendengar dan menguatkan. Bagi sebagian peserta, langkah awal mengatasi rasa cemas ternyata berawal dari keberanian untuk berbagi cerita.

Pengumuman

Error: No articles to display

Kegiatan

Artikel

Has no content to show!
We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree