The Latest
Pekalongan – UKM Studi Gender Mahasiswa (SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar kegiatan Sigma Care bertema "Being There: Mendengar, Memahami, dan Mendukung" untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang kesehatan mental dan keterampilan mendengar aktif. Kegiatan berlangsung pada Minggu (24/5/2026), pukul 08.00–12.30 WIB, di Gedung FTIK ruang R.4.11–R.4.12, Kampus 2 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Kegiatan yang merupakan program kerja Divisi Supporting ini diikuti sekitar 60 peserta, terdiri dari pengurus dan anggota UKM SIGMA serta mahasiswa umum di lingkungan kampus. Narasumber yang dihadirkan adalah Lisa Devi Dian Arifia, S.Psi., M.Psi., Psikolog, psikolog dari LKKNU Kota Pekalongan.
Selain meningkatkan pemahaman tentang kesehatan mental, kegiatan ini bertujuan melatih keterampilan mendengar aktif, empati, dan dukungan emosional dalam proses konseling maupun kehidupan sehari-hari. Peserta juga diharapkan lebih peduli terhadap kondisi psikologis diri sendiri dan orang lain sehingga dapat menjadi pendengar dan pemberi dukungan yang baik di lingkungan sekitar.
Dalam pemaparannya, Lisa menjelaskan bahwa kesehatan mental berperan penting bagi kesejahteraan psikologis, emosional, dan sosial seseorang. Menurutnya, permasalahan hidup kerap muncul akibat ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang dipengaruhi oleh pengalaman hidup, kondisi emosional, maupun trauma. Karena itu, konselor berperan membantu individu memahami diri, mengatasi masalah emosional, dan mencapai kesejahteraan mental melalui pendekatan empatik dan dukungan yang tepat.
Materi difokuskan pada teknik komunikasi konseling, khususnya active listening atau mendengar aktif. Lisa menegaskan bahwa mendengar aktif tidak sekadar mendengar ucapan lawan bicara, tetapi juga melibatkan perhatian penuh, pemahaman emosional, dan kemampuan menangkap maksud serta perasaan tanpa menghakimi. Peserta turut dikenalkan pada teknik empati, refleksi perasaan, parafrase, dan klarifikasi agar lawan bicara merasa dimengerti dan tidak sendirian menghadapi masalahnya.
Pada sesi terakhir, pembahasan beralih ke supportive counseling. Menurut Lisa, dukungan tidak selalu berarti menyelesaikan seluruh masalah orang lain, tetapi dapat diwujudkan lewat perhatian, kesediaan mendengarkan, menenangkan, serta memberi dukungan emosional maupun praktis. Dengan dukungan yang tepat, seseorang akan merasa lebih dihargai, nyaman, dan kuat menghadapi masalahnya. Selain sesi materi, peserta mengikuti diskusi interaktif dan praktik konseling sederhana bersama narasumber.
Kegiatan dibuka oleh MC dan dilanjutkan sambutan Pembina UKM SIGMA, Nadhifatuz Zulfa, M.Pd. Ia mengapresiasi terselenggaranya Sigma Care dan menilai kegiatan semacam ini penting terus dikembangkan sebagai wadah mahasiswa untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental.
Menurut Nadhifatuz, tema "Being There" sangat relevan dengan kondisi saat ini, ketika banyak orang membutuhkan ruang aman untuk didengarkan tanpa dihakimi. "Kehadiran seseorang yang mau mendengar dan memahami dengan tulus merupakan bentuk dukungan sederhana, namun sangat berarti," tuturnya.
Ia berharap mahasiswa tidak hanya memahami dasar-dasar konseling dan kesehatan mental, tetapi juga menerapkan empati, active listening, dan dukungan emosional di lingkungan kampus maupun masyarakat. Ia juga menyatakan bangga terhadap UKM SIGMA yang konsisten menghadirkan program positif dan edukatif.
Kegiatan berlangsung lancar dan diikuti peserta dengan antusias dari awal hingga akhir. Melalui Sigma Care, UKM SIGMA berharap peserta dapat menerapkan empati, mendengar aktif, dan dukungan emosional dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan bersama.
Pekalongan — Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar Workshop Visual dan Kata bertema “Think, Write, Design: Level Up Your Creativity” pada Sabtu (25/4/2026). Kegiatan berlangsung pukul 07.00–15.00 WIB di Gedung FTIK ruang R.4.11–R.4.12, Kampus 2 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Kegiatan yang diselenggarakan melalui kolaborasi Divisi Kominfo dan Divisi P3A tersebut diikuti oleh pengurus dan anggota UKM SIGMA serta mahasiswa umum. Workshop ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta dalam penulisan karya ilmiah dan desain grafis, sekaligus mendorong kreativitas mahasiswa dalam menghasilkan karya yang informatif dan komunikatif.
Workshop menghadirkan dua narasumber, yakni Dicky Anggriawan Nugroho, M.Kom., dosen FTIK UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, serta Durrotul Hikmah Yuliangsih, S.Pd., influencer dan Duta Perpustakaan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Prof. Dr. Hj. Shinta Dewi Rismawati, M.H., menekankan bahwa desain tidak hanya berkaitan dengan estetika, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan pesan kepada audiens. Menurutnya, kemampuan menyampaikan informasi secara visual perlu didukung dengan metode dan keterampilan yang tepat.
Sementara itu, Dicky Anggriawan Nugroho membawakan materi mengenai penulisan karya tulis ilmiah. Ia menjelaskan bahwa karya tulis ilmiah disusun berdasarkan pemikiran atau penelitian yang objektif, logis, sistematis, dan faktual. Peserta juga dikenalkan dengan berbagai bentuk karya ilmiah, seperti makalah, artikel ilmiah, skripsi, tesis, dan laporan penelitian.
Materi kemudian difokuskan pada penulisan artikel ilmiah untuk publikasi. Dicky menjelaskan struktur IMRaD yang meliputi Introduction, Methods, Results, dan Discussion. Pada bagian pendahuluan, peserta diperkenalkan dengan penyusunan latar belakang, identifikasi masalah, literature review, gap analysis, hingga tujuan penelitian. Sementara itu, bagian metode menjelaskan prosedur penelitian, hasil menyajikan temuan secara objektif, dan pembahasan digunakan untuk menginterpretasikan hasil serta mengaitkannya dengan penelitian terdahulu.
Materi desain grafis disampaikan oleh Durrotul Hikmah Yuliangsih. Ia membahas desain sebagai media komunikasi visual serta memperkenalkan beberapa jenis poster, yaitu poster publik, poster infografis, poster ilustrasi, dan poster penelitian. Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai komposisi visual dan pemilihan warna dalam desain. Salah satu sumber referensi palet warna yang diperkenalkan adalah Color Hunt.
Selain keterampilan menulis dan desain, kedua pemateri turut membahas pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam proses berkarya. AI dapat digunakan sebagai alat bantu, tetapi tidak menggantikan peran dan kreativitas manusia. Penggunaannya dilakukan melalui tahapan penyusunan ide dan kerangka, pembuatan draf, verifikasi dan penyuntingan, hingga finalisasi serta penyesuaian karya agar tetap memiliki sentuhan personal.
Melalui Workshop Visual dan Kata, UKM SIGMA mendorong peserta untuk mengembangkan kemampuan berpikir, menulis, dan mendesain secara kreatif. Kegiatan ini juga diarahkan untuk menumbuhkan budaya berkarya secara ilmiah dan kreatif di kalangan mahasiswa, termasuk melalui rencana tindak lanjut berupa lomba editing desain grafis.
Pekalongan — Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menyelenggarakan SAHARA (Sigma Harmoni Ramadhan) di PAY Muhammadiyah Kajen pada Sabtu (7/3). Mengusung tema “Merajut Harmoni, Merawat Kemanusiaan di Bulan Suci”, kegiatan ini diisi dengan kajian gender, ecocraft, buka puasa bersama, dan santunan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan kajian gender mengenai pentingnya mengenal diri dan memahami kesetaraan dalam meraih cita-cita. Peserta diajak mengenali potensi, minat, dan kemampuan yang dimiliki serta memahami bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Dalam pemaparannya, peserta diajak memahami bahwa laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk belajar, mengembangkan diri, dan menentukan masa depan tanpa dibatasi oleh perbedaan gender. Materi disampaikan melalui diskusi dan contoh dalam kehidupan sehari-hari sehingga peserta dapat lebih mudah memahami pentingnya menghargai diri sendiri dan saling mendukung dalam mencapai cita-cita.
Setelah kajian, kegiatan dilanjutkan dengan ecocraft berupa pembuatan hiasan dinding dari kertas. Peserta diajak mengolah bahan sederhana melalui proses menggunting, menyusun, dan menghias kertas menjadi karya kreatif. Selain melatih kreativitas, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mendorong peserta agar aktif berkarya dan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar.
Menjelang waktu berbuka, seluruh peserta mengikuti buka puasa bersama. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempererat kebersamaan dan membangun hubungan yang lebih dekat antarpeserta. Rangkaian SAHARA kemudian ditutup dengan pemberian santunan sebagai bentuk kepedulian sosial kepada pihak yang membutuhkan.
Melalui SAHARA, UKM SIGMA tidak hanya menghadirkan kegiatan selama bulan Ramadan, tetapi juga menggabungkan edukasi gender, kreativitas, kebersamaan, dan kepedulian sosial dalam satu rangkaian kegiatan. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama.
Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) sukses menyelenggarakan agenda puncak tahunan Musyawarah SIGMA (MUSIG) 2025 pada Sabtu–Minggu, 20–21 Desember 2025. Kegiatan yang bertempat di Balai Desa Kadipaten, Wiradesa ini merupakan forum tertinggi organisasi dalam satu periode kepengurusan.
Program MUSIG menjadi kerja akhir sekaligus agenda paling krusial bagi UKM SIGMA. Forum ini berfungsi sebagai ruang pertanggungjawaban pengurus, refleksi perjalanan organisasi, serta perumusan arah dan strategi kepengurusan di masa mendatang.
Acara dibuka secara resmi oleh Bapak Abdul Adhim, M.Pd., perwakilan dari Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama. Dalam Berbagainya, ia menyampaikan apresiasi atas konsistensi UKM SIGMA dalam menjaga tradisi musyawarah serta menekankan pentingnya dialog kritis sebagai landasan bagi keberlangsungan organisasi yang sehat dan demokratis.
Ketua Pelaksana MUSIG 2025, Regina Silfiana, menegaskan bahwa MUSIG tidak sekadar menjadi agenda seremonial organisasi.
“Musyawarah Sigma adalah ruang refleksi bersama untuk menakar perjalanan satu periode kepengurusan secara jujur dan kritis. Dari forum inilah arah, nilai, dan masa depan UKM SIGMA yang ditentukan,” ungkapnya dalam Berbagai Pembukaan.
Selama dua hari pelaksanaan, pengurus aktif bersama demisioner UKM SIGMA terlibat dalam diskusi dan musyawarah yang intens. Agenda utama MUSIG 2025 meliputi evaluasi menyeluruh terhadap seluruh program kerja periode 2025, refleksi atas capaian, kendala, dan pembelajaran organisasi, kompilasi rekomendasi strategi serta langkah-langkah konkret untuk kepengurusan selanjutnya, hingga penentuan mandataris Ketua Umum serta jajaran pengurus UKM SIGMA untuk periode kepengurusan 2026.
Proses musyawarah berlangsung secara tertib, demokratis, dan partisipatif. Setiap pandangan dan masukan menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan demi kemajuan organisasi. Seluruh hasil pembahasan telah dirumuskan dan didokumentasikan dalam Notulen Resmi MUSIG 2025 sebagai arsip dan pedoman organisasi.
Dengan ditutupnya MUSIG 2025, kepengurusan UKM SIGMA periode 2025 secara resmi telah menyelesaikan seluruh mandatnya. Hasil musyawarah ini diharapkan dapat menjadi pijakan awal bagi kepengurusan baru dalam membawa UKM SIGMA menjadi organisasi yang semakin progresif, berdampak, dan berkelanjutan.
Festival Gender (FESGEN) 2025 yang diselenggarakan UKM SIGMA UIN K. H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menghadirkan rangkaian kegiatan yang menyoroti isu responsif gender, kesehatan mental, hingga pemaknaan identitas diri generasi muda di era digital. Gelaran tahunan ini memadukan tiga fokus utama melalui lomba kreatif, workshop peer counseling, dan seminar nasional.
Seminar Nasional yang menjadi puncak acara digelar pada 16 November 2025 di Aula Fakultas Syariah. Mengangkat tema Menemukan Akar Diri Generasi Muda dari Krisis Identitas ke Kesadaran Nilai, seminar ini dibuka Pembina UKM SIGMA, Muasoma M.A. Ia menegaskan pentingnya peran mahasiswa dalam memahami isu gender dan menjaga lingkungan kampus yang aman serta inklusif. Dua narasumber hadir membawakan materi psikologis. Izza Himawanti, S.Psi., M.Si., memaparkan bagaimana tekanan sosial dan akademik memengaruhi stabilitas emosional mahasiswa, sementara Nisrina P. Utami, S.Psi., M.Psi., Psikolog menyoroti krisis identitas yang kerap muncul akibat perbandingan sosial di media digital.
Ketua Pelaksana FESGEN 2025, Rizky Uzwatun Khasanah, menggarisbawahi tujuan kegiatan ini untuk mendorong perubahan dan kesadaran kolektif mahasiswa. Dalam sambutannya, ia menyampaikan:
“Rangkaian FESGEN tahun ini kami rancang bukan hanya sebagai acara seremonial, tetapi sebagai proses pembelajaran bersama. Kami ingin mahasiswa memahami bahwa isu gender dan krisis identitas terkait langsung dengan keseharian mereka. Harapan kami, setelah mengikuti kegiatan ini, setiap peserta mampu membawa perubahan kecil yang berkelanjutan di lingkungan sekitar.”
Sebelum seminar digelar, rangkaian FESGEN telah dibuka dengan Workshop Peer Counseling pada 26 Oktober 2025 yang mengusung tema Imposter Syndrome? No More! Bangkitkan Potensi Diri dan Raih Mimpi-Mimpimu. Workshop ini memberikan ruang aman bagi mahasiswa untuk memahami gejala imposter syndrome, mengelola perasaan tidak layak, serta membangun keyakinan atas kemampuan diri. Pendekatan peer counseling digunakan untuk memudahkan peserta membuka diri dan mendapatkan dukungan emosional dari rekan sebaya.
Selain itu, kompetisi karya kreatif dengan tema Dari Aksi ke Transformasi: Kontribusi Generasi Muda Mewujudkan Dunia Responsif Gender turut menarik partisipasi mahasiswa lintas fakultas. Melalui karya desain grafis, video, dan essay, peserta diajak mengekspresikan pandangan mereka tentang bagaimana generasi muda dapat memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan lingkungan sosial yang lebih adil dan responsif gender.
Dengan berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan, FESGEN 2025 kembali menegaskan komitmen UKM SIGMA dalam menghadirkan wadah pembelajaran bagi mahasiswa. Perpaduan edukasi gender, penguatan kapasitas diri, serta ruang berekspresi kreatif diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi generasi muda untuk lebih memahami dirinya, menjunjung nilai kesetaraan, dan mengambil peran aktif dalam perubahan sosial.
Pekalongan – Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender dan Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) kembali mengadakan kegiatan Lapak Diskusi Gender pada Selasa (28/10). Bertempat di Lobby Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), kegiatan ini mengangkat tema menarik: “Tumbuh Tanpa Luka: Bagaimana Inner Child Membentuk Kita?”
Acara ini menghadirkan Salma Selfiyana, Duta Gender UIN Gus Dur 2024, sebagai pemantik diskusi, serta Chilmy Munazil anggota divisi Kajian sebagai moderator. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan diikuti oleh mahasiswa lintas fakultas yang antusias membahas isu psikologis dari sudut pandang gender dan pengembangan diri.
Dalam pemaparannya, Salma menjelaskan bahwa inner child merupakan konsep psikologi yang menggambarkan bagian diri yang terbentuk dari pengalaman masa kecil. Menurutnya, luka batin di masa lalu sering kali membentuk pola pikir, karakter, bahkan kepercayaan seseorang di masa kini.
“Setiap orang memiliki inner child yang menyimpan berbagai pengalaman emosional. Saat luka itu diabaikan, dampaknya bisa muncul dalam bentuk masalah emosional di kemudian hari,” ungkapnya.
Diskusi juga menyoroti pentingnya proses penyembuhan diri melalui penerimaan diri dan refleksi masa lalu. Peserta diajak memahami bahwa sekecil apa pun luka batin perlu disembuhkan agar tidak menghambat pertumbuhan pribadi.
“Berdamai dengan diri sendiri berarti berani menerima kekurangan, karena dari sanalah kekuatan kita tumbuh,” tambah Salma dalam sesi refleksi.
Melalui kegiatan ini, UKM SIGMA berharap mahasiswa semakin peka terhadap isu kesehatan mental dan kesetaraan gender, serta mampu menumbuhkan kesadaran diri untuk tumbuh tanpa luka.
Pekalongan – Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar kegiatan Workshop Peer Counseling bertema “Imposter Syndrome? No More! Bangkitkan Potensi Diri dan Raih Mimpi-Mimpimu” di ruang FUAD 3.8 pada Minggu (26/10).
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–12.00 WIB ini merupakan program kerja dari Divisi Supporting UKM SIGMA. Workshop ini digelar sebagai upaya membekali mahasiswa dalam mengenali serta mengatasi imposter syndrome, yaitu keraguan terhadap kompetensi diri dalam mencapai prestasi baik akademik maupun nonakademik. Selain itu, peserta juga diajak belajar menjadi pendengar yang baik bagi sesama.
Ketua pelaksana kegiatan, Ikhfa Fauziyatul Maula, dalam sambutannya mengajak peserta untuk menumbuhkan rasa percaya diri. “Mari kita mulai hidup sebagai pribadi yang percaya diri dan pantas atas semua hal baik yang telah kita capai dan yang akan kita raih,” ujarnya.
Sementara itu, Agil Kiki Anggraini, Wakil Ketua Umum UKM SIGMA, berharap kegiatan ini dapat mempererat solidaritas antaranggota. “Semoga kehadiran teman-teman semua membawa semangat baru, ide-ide segar, dan energi positif serta mempererat rasa kekeluargaan di antara seluruh kader UKM SIGMA,” tuturnya.
Sebagai pemateri, Sintya Dyah Kusumastuti, M.Psi., menjelaskan pentingnya peran konselor sebaya dalam mendampingi teman yang sedang berjuang dengan perasaan ragu diri. “Konselor tidak harus menyelesaikan masalah ataupun memberikan saran-saran, cukup menjadi pendengar yang baik saja sudah bagus,” ungkapnya.
Workshop ini dipandu oleh Rahmi Nurmulia sebagai moderator. Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab dan refleksi bersama, menandai komitmen UKM SIGMA dalam mengembangkan kemampuan empati serta kepedulian sosial di kalangan mahasiswa.
Kegiatan Workshop Peer Counseling ini diharapkan mampu menjadi wadah penguatan mental dan pengembangan diri bagi mahasiswa agar lebih percaya pada kemampuan yang dimiliki. Dengan semangat saling mendukung dan mendengarkan, UKM SIGMA berupaya menciptakan lingkungan kampus yang sehat, inklusif, dan penuh empati.
Pekalongan — Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar Masa Pengkaderan Anggota (MPA) 2025 pada 18–19 Oktober di Wana Wisata Kalipaingan, Paninggaran, Kabupaten Pekalongan. Kegiatan ini menjadi ajang pembinaan bagi calon anggota baru untuk menumbuhkan semangat kritis, empati sosial, serta kesadaran terhadap isu kesetaraan gender di lingkungan kampus.
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Himne UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Sambutan disampaikan oleh Ketua Pelaksana Diah Qurota A’yun, yang mengapresiasi kerja keras panitia dan semangat peserta, serta oleh Pembina UKM SIGMA, Muasomah, M.A., yang menekankan pentingnya menginternalisasi nilai-nilai kesetaraan dan kepemimpinan berperspektif gender. Muasomah sekaligus membuka kegiatan MPA 2025 secara resmi.
Pada sesi pertama, Nadhifatuz Zulfa, M.Pd., selaku Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, memaparkan materi bertema “Gender, Inklusivitas, dan Sinergi Gerakan Mahasiswa dalam Pengarusutamaan Gender di Kampus.” Ia menjelaskan bahwa isu gender bukan sekadar pembahasan teoritis, melainkan persoalan sosial yang menuntut kepekaan dan aksi nyata. Nadhifatuz mengajak peserta agar menjadi agen perubahan yang memperjuangkan lingkungan kampus yang setara dan bebas diskriminasi.
Materi kedua disampaikan oleh Ulul Albab, S.Pd. dengan topik “Menulis untuk Kesetaraan: Pengantar Kepenulisan Gender bagi Calon Anggota UKM SIGMA.” Ia menekankan bahwa literasi dan tulisan dapat menjadi medium perjuangan dalam menyuarakan keadilan sosial. Ulul mendorong peserta untuk terus menulis, sebab menurutnya, perubahan besar sering kali bermula dari keberanian menulis gagasan yang berpihak pada nilai kemanusiaan.
Selanjutnya, Muhammad Bilal, S.Sos. membawakan materi “Menjadi Pemimpin Inklusif dan Visioner.” Dalam penyampaiannya, Bilal menegaskan bahwa kepemimpinan dalam organisasi mahasiswa harus dilandasi oleh kemampuan mendengarkan, menghargai perbedaan, dan mendorong kolaborasi. Ia menekankan pentingnya membangun kepemimpinan yang tidak hanya efektif, tetapi juga empatik dan partisipatif.
Selain sesi materi, peserta juga mengikuti kegiatan diskusi kelompok dan dinamika lapangan yang dirancang untuk memperkuat solidaritas dan kerja sama. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme.
Sebagai penutup, dilakukan refleksi bersama mengenai nilai-nilai yang diperoleh selama proses kaderisasi. Melalui kegiatan MPA 2025, UKM SIGMA berharap lahir kader-kader muda yang berpikir kritis, berjiwa inklusif, serta berkomitmen memperjuangkan kesetaraan di kampus dan masyarakat.
Pekalongan – Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid menggelar acara Lapak Diskusi Gender (LDG) dengan tema “Memahami diri: Perbedaan introvert dan ekstrovert, apa yang membedakan?” pada Rabu (17/09) petang. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Perkuliahan Terpadu dan dihadiri cukup ramai oleh mahasiswa lintas fakultas, yang antusias mengikuti jalannya diskusi.
Sebelum diskusi dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti sesi tes kepribadian secara online. Hasil tes tersebut kemudian menjadi bahan awal bagi peserta untuk merefleksikan diri sekaligus memperkaya jalannya diskusi.
Acara menghadirkan Muhammad Fachry Rizki Wiyanto, pengurus UKM SIGMA, sebagai pemantik diskusi. Dalam pemaparannya, Fachry menekankan pentingnya memahami konsep introvert dan ekstrovert secara lebih tepat agar tidak terjebak pada stereotip.
“Introvert bukan sepenuhnya pendiam, seringkali introvert juga sering dibully dalam media massa. Dan extrovert pun tidak selalu cerewet dan si paling aktif. Introvert mengisi energi dengan fokus sendiri, extrovert mengisi energi dengan berinteraksi sosial,” jelas Fachry.
Diskusi berjalan interaktif dengan Nurul Aminah, pengurus UKM SIGMA dari Divisi Kajian, yang bertugas sebagai moderator. Ia memandu jalannya diskusi sehingga peserta dapat terlibat aktif dalam menyampaikan pandangan dan pengalamannya terkait topik tersebut.
Selain menambah wawasan, peserta LDG juga memperoleh sejumlah keuntungan seperti sertifikat elektronik, konsumsi ringan, hingga kesempatan memperluas jaringan melalui kegiatan interaktif. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya UKM SIGMA dalam menghadirkan ruang dialog yang inklusif dan edukatif, khususnya terkait isu-isu sosial, psikologi, dan gender di kalangan mahasiswa.
Pekalongan — Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar Lapak Diskusi Gender (LDG) bertema “Mengenal dan Mengatasi Cemas: Apa yang Bisa Kita Lakukan?” di halaman belakang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, pada Kamis (28/08) sore.
Kegiatan ini menghadirkan Kurniati Agil Cahyaningsih sebagai pemantik diskusi. Ia menekankan bahwa kecemasan merupakan respons alami manusia, tetapi perlu dikenali sejak dini agar tidak berkembang menjadi gangguan serius.
“Cemas umumnya berawal dari pikiran dan disertai tanda fisik seperti jantung berdebar, gemetar, sulit fokus, atau keringat berlebihan. Meski terasa tidak nyaman, cemas sejatinya wajar dialami siapa pun. Ia menjadi tanda bahwa tubuh sedang peduli dan bersiap menghadapi sesuatu demi memberikan yang terbaik bagi diri kita.” jelas Agil.
Ia juga memaparkan sejumlah langkah sederhana untuk mengelola kecemasan, di antaranya: menerima rasa cemas, mengatur napas, tetap fokus pada hal yang sedang dihadapi, mendiskusikan perasaan dengan orang lain, mengalihkan diri pada kegiatan positif, serta menghindari konsumsi alkohol dan kafein.
Acara dipandu oleh Aisya Meidina Natasya dari Divisi Kajian UKM SIGMA sebagai moderator. Diskusi berlangsung interaktif, ditandai dengan partisipasi aktif mahasiswa yang bertanya, berbagi pengalaman, serta menyampaikan strategi dalam mengelola kecemasan.
Selain menjadi forum berbagi pengetahuan, LDG juga menjadi ruang dukungan bagi mahasiswa. Obrolan ringan hingga refleksi mendalam membuat peserta menyepakati bahwa kecemasan bukan hal tabu untuk dibicarakan.
Melalui forum sederhana ini, UKM SIGMA menghadirkan ruang aman bagi mahasiswa untuk saling mendengar dan menguatkan. Bagi sebagian peserta, langkah awal mengatasi rasa cemas ternyata berawal dari keberanian untuk berbagi cerita.