• ukm
  • header

Berita

Festival Gender (FESGEN) 2025 yang diselenggarakan UKM SIGMA UIN K. H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menghadirkan rangkaian kegiatan yang menyoroti isu responsif gender, kesehatan mental, hingga pemaknaan identitas diri generasi muda di era digital. Gelaran tahunan ini memadukan tiga fokus utama melalui lomba kreatif, workshop peer counseling, dan seminar nasional.

Seminar Nasional yang menjadi puncak acara digelar pada 16 November 2025 di Aula Fakultas Syariah. Mengangkat tema Menemukan Akar Diri Generasi Muda dari Krisis Identitas ke Kesadaran Nilai, seminar ini dibuka Pembina UKM SIGMA, Muasoma M.A. Ia menegaskan pentingnya peran mahasiswa dalam memahami isu gender dan menjaga lingkungan kampus yang aman serta inklusif. Dua narasumber hadir membawakan materi psikologis. Izza Himawanti, S.Psi., M.Si., memaparkan bagaimana tekanan sosial dan akademik memengaruhi stabilitas emosional mahasiswa, sementara Nisrina P. Utami, S.Psi., M.Psi., Psikolog menyoroti krisis identitas yang kerap muncul akibat perbandingan sosial di media digital.

Ketua Pelaksana FESGEN 2025, Rizky Uzwatun Khasanah, menggarisbawahi tujuan kegiatan ini untuk mendorong perubahan dan kesadaran kolektif mahasiswa. Dalam sambutannya, ia menyampaikan:

“Rangkaian FESGEN tahun ini kami rancang bukan hanya sebagai acara seremonial, tetapi sebagai proses pembelajaran bersama. Kami ingin mahasiswa memahami bahwa isu gender dan krisis identitas terkait langsung dengan keseharian mereka. Harapan kami, setelah mengikuti kegiatan ini, setiap peserta mampu membawa perubahan kecil yang berkelanjutan di lingkungan sekitar.”

Sebelum seminar digelar, rangkaian FESGEN telah dibuka dengan Workshop Peer Counseling pada 26 Oktober 2025 yang mengusung tema Imposter Syndrome? No More! Bangkitkan Potensi Diri dan Raih Mimpi-Mimpimu. Workshop ini memberikan ruang aman bagi mahasiswa untuk memahami gejala imposter syndrome, mengelola perasaan tidak layak, serta membangun keyakinan atas kemampuan diri. Pendekatan peer counseling digunakan untuk memudahkan peserta membuka diri dan mendapatkan dukungan emosional dari rekan sebaya.

Selain itu, kompetisi karya kreatif dengan tema Dari Aksi ke Transformasi: Kontribusi Generasi Muda Mewujudkan Dunia Responsif Gender turut menarik partisipasi mahasiswa lintas fakultas. Melalui karya desain grafis, video, dan essay, peserta diajak mengekspresikan pandangan mereka tentang bagaimana generasi muda dapat memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan lingkungan sosial yang lebih adil dan responsif gender.

Dengan berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan, FESGEN 2025 kembali menegaskan komitmen UKM SIGMA dalam menghadirkan wadah pembelajaran bagi mahasiswa. Perpaduan edukasi gender, penguatan kapasitas diri, serta ruang berekspresi kreatif diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi generasi muda untuk lebih memahami dirinya, menjunjung nilai kesetaraan, dan mengambil peran aktif dalam perubahan sosial.

Pekalongan – Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender dan Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) kembali mengadakan kegiatan Lapak Diskusi Gender pada Selasa (28/10). Bertempat di Lobby Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), kegiatan ini mengangkat tema menarik: Tumbuh Tanpa Luka: Bagaimana Inner Child Membentuk Kita?”

Acara ini menghadirkan Salma Selfiyana, Duta Gender UIN Gus Dur 2024, sebagai pemantik diskusi, serta Chilmy Munazil anggota divisi Kajian sebagai moderator. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan diikuti oleh mahasiswa lintas fakultas yang antusias membahas isu psikologis dari sudut pandang gender dan pengembangan diri.

Dalam pemaparannya, Salma menjelaskan bahwa inner child merupakan konsep psikologi yang menggambarkan bagian diri yang terbentuk dari pengalaman masa kecil. Menurutnya, luka batin di masa lalu sering kali membentuk pola pikir, karakter, bahkan kepercayaan seseorang di masa kini.

“Setiap orang memiliki inner child yang menyimpan berbagai pengalaman emosional. Saat luka itu diabaikan, dampaknya bisa muncul dalam bentuk masalah emosional di kemudian hari,” ungkapnya.

Diskusi juga menyoroti pentingnya proses penyembuhan diri melalui penerimaan diri dan refleksi masa lalu. Peserta diajak memahami bahwa sekecil apa pun luka batin perlu disembuhkan agar tidak menghambat pertumbuhan pribadi.

“Berdamai dengan diri sendiri berarti berani menerima kekurangan, karena dari sanalah kekuatan kita tumbuh,” tambah Salma dalam sesi refleksi.

Melalui kegiatan ini, UKM SIGMA berharap mahasiswa semakin peka terhadap isu kesehatan mental dan kesetaraan gender, serta mampu menumbuhkan kesadaran diri untuk tumbuh tanpa luka.

Pekalongan – Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar kegiatan Workshop Peer Counseling bertema Imposter Syndrome? No More! Bangkitkan Potensi Diri dan Raih Mimpi-Mimpimu di ruang FUAD 3.8 pada Minggu (26/10).

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–12.00 WIB ini merupakan program kerja dari Divisi Supporting UKM SIGMA. Workshop ini digelar sebagai upaya membekali mahasiswa dalam mengenali serta mengatasi imposter syndrome, yaitu keraguan terhadap kompetensi diri dalam mencapai prestasi baik akademik maupun nonakademik. Selain itu, peserta juga diajak belajar menjadi pendengar yang baik bagi sesama.

Ketua pelaksana kegiatan, Ikhfa Fauziyatul Maula, dalam sambutannya mengajak peserta untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Mari kita mulai hidup sebagai pribadi yang percaya diri dan pantas atas semua hal baik yang telah kita capai dan yang akan kita raih,” ujarnya.

Sementara itu, Agil Kiki Anggraini, Wakil Ketua Umum UKM SIGMA, berharap kegiatan ini dapat mempererat solidaritas antaranggota. Semoga kehadiran teman-teman semua membawa semangat baru, ide-ide segar, dan energi positif serta mempererat rasa kekeluargaan di antara seluruh kader UKM SIGMA,” tuturnya.

Sebagai pemateri, Sintya Dyah Kusumastuti, M.Psi., menjelaskan pentingnya peran konselor sebaya dalam mendampingi teman yang sedang berjuang dengan perasaan ragu diri. Konselor tidak harus menyelesaikan masalah ataupun memberikan saran-saran, cukup menjadi pendengar yang baik saja sudah bagus, ungkapnya.

Workshop ini dipandu oleh Rahmi Nurmulia sebagai moderator. Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab dan refleksi bersama, menandai komitmen UKM SIGMA dalam mengembangkan kemampuan empati serta kepedulian sosial di kalangan mahasiswa.

Kegiatan Workshop Peer Counseling ini diharapkan mampu menjadi wadah penguatan mental dan pengembangan diri bagi mahasiswa agar lebih percaya pada kemampuan yang dimiliki. Dengan semangat saling mendukung dan mendengarkan, UKM SIGMA berupaya menciptakan lingkungan kampus yang sehat, inklusif, dan penuh empati.

Pengumuman

Error: No articles to display

Kegiatan

Artikel

Has no content to show!
We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree