Berita
Pekalongan — UKM Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan selenggarakan Lapak Diskusi Gender (LDG) dengan mengangkat tema “Membongkar Realita Fantasi Sedarah: Memahami Psikis Korban dan Dampak Sosialnya”, pada rabu sore (4/6) di lobi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
Diskusi ini menghadirkan Ibu Ningsih Fadhilah, M.Pd., seorang akademisi dan praktisi bimbingan dan konseling yang fokus pada isu gender dan anak, sebagai pemantik. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa fantasi sedarah bukan sekadar penyimpangan perilaku, melainkan sering kali merupakan dampak dari pengalaman traumatis masa kecil, relasi kuasa yang tidak seimbang dalam keluarga, kurangnya edukasi seksual, serta tekanan sosial yang represif.
“Bukan sekadar penyimpangan, tapi bisa berakar dari trauma masa kecil, relasi kuasa dalam keluarga, kurangnya edukasi seksual, hingga lingkungan sosial yang represif. Terdapat manifestasi bawah sadar dan pola relasi yang rusak,” ujar Ibu Ningsih.
Diskusi dipandu oleh Rizky Uswatun Khasanah dari Divisi Kajian UKM SIGMA selaku moderator. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai fakultas dan berlangsung secara interaktif. Para peserta terlibat aktif dalam sesi tanya jawab dengan menyampaikan pertanyaan maupun pandangan terkait topik yang dibahas.
Kegiatan LDG ini menjadi wujud kepedulian UKM SIGMA terhadap isu kekerasan dalam relasi keluarga yang belakangan menjadi sorotan publik. Sebagai organisasi yang berfokus pada isu gender, UKM SIGMA berupaya menyediakan ruang dialog yang edukatif dan terbuka bagi mahasiswa dalam memahami kompleksitas persoalan tersebut. Melalui forum ini, UKM SIGMA menegaskan perannya dalam membangun lingkungan kampus yang peka, aman, dan berpihak pada nilai-nilai keadilan serta kemanusiaan.
Pekalongan — Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (DEMA-U) berkolaborasi dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) menyelenggarakan diskusi terbuka bertema “Stereotip Gender: Jalur Advokasi dan Korelasinya dengan HAM” pada Rabu (28/05) sore. Kegiatan ini berlangsung di pelataran Gedung Student Center dalam suasana santai namun sarat makna.
Diskusi dibuka oleh Mazda Ghazali Hidayat, Ketua Umum UKM SIGMA, yang menyampaikan pengantar tentang bagaimana stereotip gender terbentuk sejak dini dan secara tak sadar membentuk pola interaksi sosial. Ghazali menekankan pentingnya refleksi diri dalam membongkar konstruksi sosial yang membatasi peran laki-laki dan perempuan di berbagai ranah kehidupan.
Sesi kedua diisi oleh Kementerian Komunikasi, Politik & Hukum DEMA-U yang memaparkan prosedur pelaporan kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus. Mereka menegaskan bahwa mekanisme ini dirancang untuk menjamin kerahasiaan, memberikan perlindungan bagi penyintas, serta memastikan adanya kepastian hukum di tingkat institusi.
Selanjutnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan DEMA-U mengaitkan isu kekerasan seksual dengan perspektif hak asasi manusia. Mereka menegaskan bahwa pada dasarnya setiap manusia memiliki derajat yang setara di mata HAM, tanpa memandang jenis kelamin maupun identitas gender.
Diskusi ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Prof. Dr. Shinta Dewi Rismawati, S.H., M.H., yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif diskusi terbuka ini. Ia mendorong agar kegiatan semacam ini terus digelar secara rutin tanpa dibatasi oleh formalitas. Menurut Prof. Shinta, ruang-ruang diskusi yang terbuka dan santai justru menjadi wadah efektif bagi mahasiswa untuk saling bertukar ide dan merumuskan solusi secara kreatif.
Dengan tiga sesi pemaparan yang menyentuh ranah konstruksi sosial, jalur advokasi kekerasan seksual, serta perspektif HAM, kolaborasi antara DEMA-U dan UKM SIGMA ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran kritis mahasiswa terhadap stereotip gender. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi langkah awal menuju kampus yang lebih inklusif, adil, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Pekalongan, Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan kembali menggelar Lapak Diskusi Gender (LDG) pada Selasa (27/05) sore. Bertempat di halaman belakang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), kegiatan ini mengangkat tema yang relevan dengan keseharian generasi muda: "Ngonten Tapi Dilecehkan: Aman Gak Sih Jadi Anak Muda di Media Sosial?"
Dipandu oleh Avidah Sirley Salsabila (anggota Divisi Kajian) dan Putri Wahyu Widiyaningsih (Koordinator Divisi P3A - Penelitian, Pengembangan, dan Pengkaderan Anggota), diskusi berjalan interaktif dan penuh antusiasme. Peserta terdiri dari anggota dan pengurus UKM SIGMA serta mahasiswa umum aktif menyampaikan pandangan, pengalaman pribadi, dan keresahan mereka terkait pelecehan digital yang marak terjadi di media sosial.
Tema ini diangkat sebagai respons terhadap semakin meningkatnya kasus kekerasan berbasis gender online, khususnya terhadap konten kreator muda yang kerap menjadi sasaran komentar seksis, perundungan, hingga ancaman. Diskusi ini menjadi ruang aman untuk saling bertukar pengalaman, menyuarakan keresahan, serta merumuskan langkah-langkah preventif agar generasi muda tetap aman dan berdaya di dunia digital.
“Media sosial bisa memberi banyak informasi, tapi tetap perlu batasan diri dan etika agar tak terjerumus hal-hal negatif,” Ujar Putri dalam pemaparannya.
Kegiatan LDG ini merupakan program rutin UKM SIGMA yang bertujuan mendorong diskusi kritis seputar isu-isu gender dan sosial dalam format santai namun substansial. Lapak Diskusi Gender tidak hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga bentuk advokasi dan penguatan solidaritas antar mahasiswa.
Dengan semangat kolaboratif dan kesadaran kritis, UKM SIGMA berharap diskusi semacam ini dapat terus menjadi ruang belajar dan bergerak bersama dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman, inklusif, dan responsif terhadap isu gender.
Pengumuman
Error: No articles to display