• ukm
  • header

UKM SIGMA dan Duta Gender UIN Gus Dur Dukung Penuh Diskusi Kajian Gender sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Kampus 2025

30 Juli 2025

Pekalongan – Diskusi Kajian Gender bertajuk “Penguatan Perspektif Gender dan Focal Point Gender Pencegahan Kekerasan Seksual di Kampus” sukses digelar oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan pada Sabtu (26/8) siang. UKM Studi Gender Mahasiswa (SIGMA) bersama Duta Gender UIN Gus Dur turut terlibat secara aktif dalam pelaksanaan kegiatan ini sebagai bagian dari peran mereka di kampus sebagai focal point gender dari kalangan mahasiswa. Keterlibatan ini menjadi wujud nyata komitmen UKM SIGMA dan Duta Gender dalam mendukung penguatan kesadaran dan aksi pencegahan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi.

Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid daring dan luring ini dibuka oleh Ketua LP2M UIN Gus Dur, Prof. Dr. Moh. Sugeng Solehuddin, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menekankan urgensi membangun kesadaran bersama di kampus untuk memahami dan mencegah kekerasan seksual.

"Kampus harus menjadi lingkungan yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh civitas akademika. Pentingnya pengarusutamaan perspektif gender agar kekerasan berbasis gender tidak lagi terjadi di ruang akademik," ujar Prof. Sugeng.

Hadir sebagai narasumber utama, Desti Murdijana, seorang aktivis gender senior dan pembina aliansi PTRG dari We-Lead dan JAZZ, memaparkan bahwa kekerasan seksual dapat terjadi dimana saja termasuk institusi pendidikan. Hal ini kerap terjadi akibat relasi kuasa yang tidak seimbang saat pelaku merasa memiliki posisi atau kekuatan yang lebih tinggi dibanding korban.

"Selain faktor relasi kuasa, kekerasan seksual kerap terjadi karena adanya niat serta keyakinan pelaku bahwa ia dapat menguasai korban. Penting untuk disadari bahwa siapa pun bisa menjadi korban, termasuk perempuan berhijab, lansia, maupun individu dengan kondisi fisik tertentu. Berbeda dengan kejahatan biasa yang muncul karena peluang, kekerasan seksual justru bisa dirancang dan diciptakan oleh pelaku," jelas Desti.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan respons dan interaksi yang cukup baik dari peserta. Meskipun diselenggarakan secara hybrid, antusiasme tetap terasa, terutama melalui partisipasi aktif peserta.

Acara ditutup oleh Kepala PSGA UIN Gus Dur, Nadhifatuz Zulfa, M.Pd., yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan ini. Ia berharap kolaborasi antara PSGA, UKM SIGMA, Duta Gender, dan seluruh elemen kampus dapat terus diperkuat demi membangun budaya akademik yang aman, setara, dan bebas dari kekerasan seksual.

Pengumuman

Error: No articles to display

Kegiatan

Artikel

Has no content to show!
We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree