Pekalongan — Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA-U) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berkolaborasi dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) menggelar diskusi terbuka bertema “Stereotip Gender: Jalur Advokasi dan Korelasinya dengan HAM” pada Rabu (28/5) sore. Kegiatan berlangsung di pelataran Gedung Student Center dalam suasana diskusi yang terbuka dan santai.
Diskusi dibuka oleh Ketua Umum UKM SIGMA, Mazda Ghazali Hidayat, yang membahas terbentuknya stereotip gender sejak usia dini dan pengaruhnya terhadap pola interaksi sosial. Ia menekankan pentingnya refleksi terhadap konstruksi sosial yang dapat membatasi peran laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.
Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh Kementerian Komunikasi, Politik, dan Hukum DEMA-U yang memaparkan mekanisme pelaporan kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa mekanisme tersebut mencakup upaya menjaga kerahasiaan, memberikan perlindungan bagi penyintas, serta mendukung kepastian hukum di tingkat institusi.
Sesi berikutnya diisi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan DEMA-U yang membahas isu kekerasan seksual dari perspektif hak asasi manusia (HAM). Dalam perspektif tersebut, setiap manusia memiliki kedudukan dan hak yang setara tanpa membedakan jenis kelamin maupun identitas gender.
Kegiatan turut dihadiri Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Prof. Dr. Shinta Dewi Rismawati, S.H., M.H. Ia mengapresiasi penyelenggaraan diskusi terbuka dan mendorong agar ruang diskusi serupa dapat terus dilakukan secara rutin.
Menurut Prof. Shinta, forum diskusi yang terbuka dan tidak terlalu formal dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bertukar gagasan serta membahas berbagai persoalan secara lebih leluasa.
Melalui pembahasan mengenai konstruksi sosial, mekanisme advokasi kekerasan seksual, dan perspektif HAM, diskusi kolaboratif DEMA-U dan UKM SIGMA ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas pemahaman mengenai stereotip gender dan persoalan kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus.