Pekalongan – UKM Studi Gender Mahasiswa (SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar kegiatan Sigma Care bertema "Being There: Mendengar, Memahami, dan Mendukung" untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang kesehatan mental dan keterampilan mendengar aktif. Kegiatan berlangsung pada Minggu (24/5/2026), pukul 08.00–12.30 WIB, di Gedung FTIK ruang R.4.11–R.4.12, Kampus 2 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Kegiatan yang merupakan program kerja Divisi Supporting ini diikuti sekitar 60 peserta, terdiri dari pengurus dan anggota UKM SIGMA serta mahasiswa umum di lingkungan kampus. Narasumber yang dihadirkan adalah Lisa Devi Dian Arifia, S.Psi., M.Psi., Psikolog, psikolog dari LKKNU Kota Pekalongan.
Selain meningkatkan pemahaman tentang kesehatan mental, kegiatan ini bertujuan melatih keterampilan mendengar aktif, empati, dan dukungan emosional dalam proses konseling maupun kehidupan sehari-hari. Peserta juga diharapkan lebih peduli terhadap kondisi psikologis diri sendiri dan orang lain sehingga dapat menjadi pendengar dan pemberi dukungan yang baik di lingkungan sekitar.
Dalam pemaparannya, Lisa menjelaskan bahwa kesehatan mental berperan penting bagi kesejahteraan psikologis, emosional, dan sosial seseorang. Menurutnya, permasalahan hidup kerap muncul akibat ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang dipengaruhi oleh pengalaman hidup, kondisi emosional, maupun trauma. Karena itu, konselor berperan membantu individu memahami diri, mengatasi masalah emosional, dan mencapai kesejahteraan mental melalui pendekatan empatik dan dukungan yang tepat.
Materi difokuskan pada teknik komunikasi konseling, khususnya active listening atau mendengar aktif. Lisa menegaskan bahwa mendengar aktif tidak sekadar mendengar ucapan lawan bicara, tetapi juga melibatkan perhatian penuh, pemahaman emosional, dan kemampuan menangkap maksud serta perasaan tanpa menghakimi. Peserta turut dikenalkan pada teknik empati, refleksi perasaan, parafrase, dan klarifikasi agar lawan bicara merasa dimengerti dan tidak sendirian menghadapi masalahnya.
Pada sesi terakhir, pembahasan beralih ke supportive counseling. Menurut Lisa, dukungan tidak selalu berarti menyelesaikan seluruh masalah orang lain, tetapi dapat diwujudkan lewat perhatian, kesediaan mendengarkan, menenangkan, serta memberi dukungan emosional maupun praktis. Dengan dukungan yang tepat, seseorang akan merasa lebih dihargai, nyaman, dan kuat menghadapi masalahnya. Selain sesi materi, peserta mengikuti diskusi interaktif dan praktik konseling sederhana bersama narasumber.
Kegiatan dibuka oleh MC dan dilanjutkan sambutan Pembina UKM SIGMA, Nadhifatuz Zulfa, M.Pd. Ia mengapresiasi terselenggaranya Sigma Care dan menilai kegiatan semacam ini penting terus dikembangkan sebagai wadah mahasiswa untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental.
Menurut Nadhifatuz, tema "Being There" sangat relevan dengan kondisi saat ini, ketika banyak orang membutuhkan ruang aman untuk didengarkan tanpa dihakimi. "Kehadiran seseorang yang mau mendengar dan memahami dengan tulus merupakan bentuk dukungan sederhana, namun sangat berarti," tuturnya.
Ia berharap mahasiswa tidak hanya memahami dasar-dasar konseling dan kesehatan mental, tetapi juga menerapkan empati, active listening, dan dukungan emosional di lingkungan kampus maupun masyarakat. Ia juga menyatakan bangga terhadap UKM SIGMA yang konsisten menghadirkan program positif dan edukatif.
Kegiatan berlangsung lancar dan diikuti peserta dengan antusias dari awal hingga akhir. Melalui Sigma Care, UKM SIGMA berharap peserta dapat menerapkan empati, mendengar aktif, dan dukungan emosional dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan bersama.