Berita
Pekalongan – Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar kegiatan Workshop Peer Counseling bertema “Imposter Syndrome? No More! Bangkitkan Potensi Diri dan Raih Mimpi-Mimpimu” di ruang FUAD 3.8 pada Minggu (26/10).
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–12.00 WIB ini merupakan program kerja dari Divisi Supporting UKM SIGMA. Workshop ini digelar sebagai upaya membekali mahasiswa dalam mengenali serta mengatasi imposter syndrome, yaitu keraguan terhadap kompetensi diri dalam mencapai prestasi baik akademik maupun nonakademik. Selain itu, peserta juga diajak belajar menjadi pendengar yang baik bagi sesama.
Ketua pelaksana kegiatan, Ikhfa Fauziyatul Maula, dalam sambutannya mengajak peserta untuk menumbuhkan rasa percaya diri. “Mari kita mulai hidup sebagai pribadi yang percaya diri dan pantas atas semua hal baik yang telah kita capai dan yang akan kita raih,” ujarnya.
Sementara itu, Agil Kiki Anggraini, Wakil Ketua Umum UKM SIGMA, berharap kegiatan ini dapat mempererat solidaritas antaranggota. “Semoga kehadiran teman-teman semua membawa semangat baru, ide-ide segar, dan energi positif serta mempererat rasa kekeluargaan di antara seluruh kader UKM SIGMA,” tuturnya.
Sebagai pemateri, Sintya Dyah Kusumastuti, M.Psi., menjelaskan pentingnya peran konselor sebaya dalam mendampingi teman yang sedang berjuang dengan perasaan ragu diri. “Konselor tidak harus menyelesaikan masalah ataupun memberikan saran-saran, cukup menjadi pendengar yang baik saja sudah bagus,” ungkapnya.
Workshop ini dipandu oleh Rahmi Nurmulia sebagai moderator. Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab dan refleksi bersama, menandai komitmen UKM SIGMA dalam mengembangkan kemampuan empati serta kepedulian sosial di kalangan mahasiswa.
Kegiatan Workshop Peer Counseling ini diharapkan mampu menjadi wadah penguatan mental dan pengembangan diri bagi mahasiswa agar lebih percaya pada kemampuan yang dimiliki. Dengan semangat saling mendukung dan mendengarkan, UKM SIGMA berupaya menciptakan lingkungan kampus yang sehat, inklusif, dan penuh empati.
Pekalongan — Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar Masa Pengkaderan Anggota (MPA) 2025 pada 18–19 Oktober di Wana Wisata Kalipaingan, Paninggaran, Kabupaten Pekalongan. Kegiatan ini menjadi ajang pembinaan bagi calon anggota baru untuk menumbuhkan semangat kritis, empati sosial, serta kesadaran terhadap isu kesetaraan gender di lingkungan kampus.
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Himne UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Sambutan disampaikan oleh Ketua Pelaksana Diah Qurota A’yun, yang mengapresiasi kerja keras panitia dan semangat peserta, serta oleh Pembina UKM SIGMA, Muasomah, M.A., yang menekankan pentingnya menginternalisasi nilai-nilai kesetaraan dan kepemimpinan berperspektif gender. Muasomah sekaligus membuka kegiatan MPA 2025 secara resmi.
Pada sesi pertama, Nadhifatuz Zulfa, M.Pd., selaku Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, memaparkan materi bertema “Gender, Inklusivitas, dan Sinergi Gerakan Mahasiswa dalam Pengarusutamaan Gender di Kampus.” Ia menjelaskan bahwa isu gender bukan sekadar pembahasan teoritis, melainkan persoalan sosial yang menuntut kepekaan dan aksi nyata. Nadhifatuz mengajak peserta agar menjadi agen perubahan yang memperjuangkan lingkungan kampus yang setara dan bebas diskriminasi.
Materi kedua disampaikan oleh Ulul Albab, S.Pd. dengan topik “Menulis untuk Kesetaraan: Pengantar Kepenulisan Gender bagi Calon Anggota UKM SIGMA.” Ia menekankan bahwa literasi dan tulisan dapat menjadi medium perjuangan dalam menyuarakan keadilan sosial. Ulul mendorong peserta untuk terus menulis, sebab menurutnya, perubahan besar sering kali bermula dari keberanian menulis gagasan yang berpihak pada nilai kemanusiaan.
Selanjutnya, Muhammad Bilal, S.Sos. membawakan materi “Menjadi Pemimpin Inklusif dan Visioner.” Dalam penyampaiannya, Bilal menegaskan bahwa kepemimpinan dalam organisasi mahasiswa harus dilandasi oleh kemampuan mendengarkan, menghargai perbedaan, dan mendorong kolaborasi. Ia menekankan pentingnya membangun kepemimpinan yang tidak hanya efektif, tetapi juga empatik dan partisipatif.
Selain sesi materi, peserta juga mengikuti kegiatan diskusi kelompok dan dinamika lapangan yang dirancang untuk memperkuat solidaritas dan kerja sama. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme.
Sebagai penutup, dilakukan refleksi bersama mengenai nilai-nilai yang diperoleh selama proses kaderisasi. Melalui kegiatan MPA 2025, UKM SIGMA berharap lahir kader-kader muda yang berpikir kritis, berjiwa inklusif, serta berkomitmen memperjuangkan kesetaraan di kampus dan masyarakat.
Pekalongan – Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Gender Mahasiswa (UKM SIGMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid menggelar acara Lapak Diskusi Gender (LDG) dengan tema “Memahami diri: Perbedaan introvert dan ekstrovert, apa yang membedakan?” pada Rabu (17/09) petang. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Perkuliahan Terpadu dan dihadiri cukup ramai oleh mahasiswa lintas fakultas, yang antusias mengikuti jalannya diskusi.
Sebelum diskusi dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti sesi tes kepribadian secara online. Hasil tes tersebut kemudian menjadi bahan awal bagi peserta untuk merefleksikan diri sekaligus memperkaya jalannya diskusi.
Acara menghadirkan Muhammad Fachry Rizki Wiyanto, pengurus UKM SIGMA, sebagai pemantik diskusi. Dalam pemaparannya, Fachry menekankan pentingnya memahami konsep introvert dan ekstrovert secara lebih tepat agar tidak terjebak pada stereotip.
“Introvert bukan sepenuhnya pendiam, seringkali introvert juga sering dibully dalam media massa. Dan extrovert pun tidak selalu cerewet dan si paling aktif. Introvert mengisi energi dengan fokus sendiri, extrovert mengisi energi dengan berinteraksi sosial,” jelas Fachry.
Diskusi berjalan interaktif dengan Nurul Aminah, pengurus UKM SIGMA dari Divisi Kajian, yang bertugas sebagai moderator. Ia memandu jalannya diskusi sehingga peserta dapat terlibat aktif dalam menyampaikan pandangan dan pengalamannya terkait topik tersebut.
Selain menambah wawasan, peserta LDG juga memperoleh sejumlah keuntungan seperti sertifikat elektronik, konsumsi ringan, hingga kesempatan memperluas jaringan melalui kegiatan interaktif. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya UKM SIGMA dalam menghadirkan ruang dialog yang inklusif dan edukatif, khususnya terkait isu-isu sosial, psikologi, dan gender di kalangan mahasiswa.
Pengumuman
Error: No articles to display